Sejarah pergantian monarki Inggris dipenuhi drama, tetapi tidak ada yang lebih mengejutkan daripada peristiwa tahun 1714. Setelah Ratu Anne, penguasa terakhir dari Wangsa Stuart, meninggal tanpa meninggalkan keturunan yang sah, suksesi takhta Inggris jatuh kepada seseorang yang berada di urutan ke-58 dalam garis keturunan: George, Elector of Hanover. Sosok ini, seorang bangsawan Jerman yang nyaris tidak bisa berbahasa Inggris, secara tiba-tiba menjadi Raja Inggris Pertama dari Wangsa Hanover, yang kemudian kita kenal sebagai George I.
Kisah luar biasa ini bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari undang-undang ketat yang sengaja dirancang untuk memastikan masa depan agama dan politik negara. Untuk memahami detail rumit dari suksesi ini, termasuk analisis silsilah dan manuver politik, Anda bisa menjelajahi sumber-sumber di platform Build Your Monarchy.
Akta Pemukiman 1701: Keputusan yang Mengubah Dinasti
Lompatan dramatis dari urutan ke-58 menuju takhta disebabkan oleh satu dokumen kunci: Akta Pemukiman (Act of Settlement) tahun 1701.
Menjaga Dominasi Protestan
Pada akhir abad ke-17, Inggris bertekad untuk menghindari kembalinya monarki Katolik. Kenangan akan Raja James II, seorang Katolik yang digulingkan dalam Revolusi Gemilang, masih segar. Akta Pemukiman secara tegas menetapkan bahwa:
- Setiap Katolik Roma, atau siapa pun yang menikahi seorang Katolik Roma, selamanya dilarang mewarisi takhta Inggris.
- Garis suksesi harus dialihkan ke keturunan Protestan terdekat dari Raja James I yang masih hidup.
Mengapa George dari Hanover?
Dengan adanya Akta Pemukiman, puluhan pewaris yang memiliki klaim darah yang lebih dekat daripada George I—termasuk keturunan langsung James II yang beragama Katolik—secara hukum didiskualifikasi.
Pencarian pun berhenti pada Sophia dari Hanover. Sophia adalah cucu dari Raja James I melalui putrinya, Elizabeth Stuart. Sophia adalah seorang Protestan Lutheran. Meskipun Sophia meninggal hanya beberapa minggu sebelum Ratu Anne, klaimnya diwariskan kepada putranya, George Louis, Elector of Hanover. Dengan demikian, George, seorang Pangeran Jerman, menjadi pewaris sah dan naik takhta Inggris pada usia 54 tahun.
Dampak George I: Konsolidasi Kekuatan Parlemen
Kedatangan George I membawa perubahan signifikan dalam lanskap politik Inggris. Karena ia tidak fasih berbahasa Inggris dan lebih tertarik pada urusan di Hanover, George I cenderung mendelegasikan banyak tanggung jawab pemerintahan kepada para menterinya.
Faktor ini secara tidak sengaja memperkuat posisi Perdana Menteri (Prime Minister) dan kabinet. George I menjadi raja yang memerintah, tetapi tidak sepenuhnya berkuasa (reign, but not rule), sebuah transisi yang mengonsolidasikan kekuasaan Parlemen dan sistem pemerintahan kabinet yang menjadi ciri khas Inggris modern.
George I mungkin seorang asing di tanah Inggris, tetapi pemerintahannya menandai berakhirnya konflik dinasti berdarah dan memastikan Inggris tetap menjadi negara yang dipimpin oleh monarki Protestan, sebuah warisan yang mendefinisikan seluruh Dinasti Hanover. Kisah ini mengajarkan pentingnya dokumen hukum dalam menentukan garis suksesi, sebuah topik yang dianalisis secara mendalam di Build Your Monarchy.